“Ayo ketemu!”
“Maaf, nggak bisa dulu ya”
Begitulah jawaban yang sering kuberikan saat tiba saatnya perasaan terburuk itu datang.
Beralasan tidak ingin memberikan kesan yang negatif saat bertemu, tanpa sadar mulai merasa sepi, dan berpikir aku hanya sendiri.
Terhanyut dalam perasaan buruk, menantikan seseorang menyelamatkan keterpurukan.
Lalu aku tersadar, mendengar suara berisik di depan pintu. Mereka mengetuk dan memanggil namaku, menunggu aku membukakan pintu.
“Kemana aja? kok lama banget bukanya?”
“Cuma disini. Kalian udah daritadi nunggu?”
“Dari 2 bulan yang lalu.”